Bismillahirrahmanirraheem
In the Name of Allah, the most Beneficent, the most Merciful.
I testify that there's no God to be worship but Allah
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Adik menolak pintu. Kasar.
"Kak, kakak di mana?" Bungkam menyelimuti.
"Kak, kakak di mana? Adik perlu kakak."
Bukannya sebelum ini kakak tak pernah menjawab kalau dipanggil adik.
tapi adik selalu begitu bila lemah. Terus-terusan memanggil kakak.
Membuncah harapannya andai saja kakak menjawab 'ya'.
Adik terduduk lesu. Bibirnya terkunci rapat. Bisu.
Di hadapan semua orang, adiklah yang paling kuat.
Adik agresif, adik sensitif, adik responsif.
Tapi di depan kakak, adik menjadi dirinya yang satu lagi.
"Kakak kan sudah pernah pergi dulu. Lalu adik yang meminta agar kakak kembali, dan kakak benar-benar kembali. Lalu sekarang...Kenapa kakak perlu pergi lagi untuk kesekian kali...?"
"Adik kenapa?"
"Kakak!" adik mahu segera mendakap kakak. Adik mahu pinjam kekuatan kakak. Kekuatan yang dia tak punya. Kekuatan yang selama ini dipura-purakan saja.
"Maaf dik. Kakak kan sudah pilih jalan sendiri. Adik juga sudah merestui. Lalu sekarang kenapa...?"
"Adik minta maaf kak."
"Komplikasi lagi...?" Adik mengangguk. Seraya itu air mata berjejeran.
"Kakak fikir adik sudah benar-benar siap. Sudah siap menongkah arus hidup sendiri. Kakak fikir adik sudah mandiri. Sudah membebaskan pergantungan pada manusia, dan hanya menggangtung harap pada Dia. Apa kakak silap mengukur adik...?"
" Tapi terkadang adik tetap perlu khabarkan kepada kakak. Adik cuma mahu menenteramkan hati saja."
"Khabarkan . Ke mari."
"Kenapa segalanya seringkali tidak mudah, ya kak? Kenapa segalanya terasa sukar sekali? Sampai kadang-kala..."
"Adik mahu putus asa? Begitu?"
Adik teringat kata-kata kakak. Masakan mahu berputus asa hanya kerana jalannya tidak mudah?
"Tapi adik lelah,kak! Adik tahu adik tidak harus dan tidak boleh berputus asa tapi..."
"Adik lelah pada pendakian sendiri kerna jalan yang adik tempuh banyak liku dan duri...? Dan adik membandingkan dengan pendaki-pendaki lain yang jalan mereka terbentang luas sekali...? Begitu?"
"Setelah semua ini....Adik merasakan penatnya kak. Adik merasa tidak kuat untuk meneruskan. Adik khuatir yang di atas bukan ditentukan untuk adik. Mungkin juga untuk orang lain, tapi bukan adik."
" Padahal kakak sudah begitu yakin untuk membiarkan adik berkelana sendirian, tahu?" sinar cahaya pudar pada bebola mata kakak.
"Ini bukan pertama kalinya jalan ini menjadi sukar,kak. Bukan pertama kalinya"
"Tapi seawal dulu adik tidak pernah memikirkan ini, bukan? kenapa ini tidak pernah menjadi persoalan saat adik memutuskan untuk memulakan pendakian...? Dan, belumpun sampai ke puncak, adik sudah menyerah lelah... Siapa ajar adik untuk berputus asa...?"
" Tapi adik khuatir tak mampu diteruskan kak. Bukankah yang berkah itu pada yang mudah...?"
"Adik! benarkah adik ini mencontohi sirah Rasulullah...? Pernahkah sekali dalam seumur hidup Rasulullah berpatah arah...? Adakah adik menjumpai kisah Rasulullah berputus asa...?"
"Yang berpatah arah kerana kesulitan dan kedegilan, berlari meninggalkan perjuangan, kemudian ditakdirkan menerima pembalasan, dan akhirnya dalam sungkur taubatnya diterima Tuhan...Itu cuma Nabi Yunus,kak. Tidak Muhammad bin Abdullah."
"Adik bukannya tidak bijak. Lalu sekarang kenapa...Semudah itu untuk berputus asa....? Adik tidak yakin dengan aturan Allah...? Adik tidak pasti apa yang menanti terkehadapan...? Adik khuatir tersungkur sebelum tiba garis penamat...?"
Lalu adik teringat sepotong ayat,
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”(Q.S. Yusuf : 87)
Hatinya menjadi gerun tiba-tiba.
Allah sudah memujuknya supaya terus berusaha, kenapa bisa dia tidak mengendahkannya...?
Allah sudah menjanjikan rahmat dan pertolongan akan tiba, kenapa dia tidak mempedulikannya...?
Dan...Ahh..Masakan dia sama tarafnya seperti orang-orang kafir yang berputus asa...?
Padahal setiap hari dia bersyahadah ,
'Laa ilaaha illallah. Muhammadur RasululLah.'
"Kak, adik kan bukannya berputus asa. Adik cuma kepenatan dalam pendakian."
"Apa pun jua itu halnya yang menyakitkan, yang melukakan, yang menggerunkan, yang menyedihkan, yang menyulitkan, tidak akan meninggalkan kesan sedikitpun. Andai adik menyandarkan segala-galanya sebagai hikmah ujian. Selama adik meletakkan Dia dalam sini," kakak menunjukkan ke bahagian hati.
"Adik akan punya segalanya. Biarkan saja pendaki-pendaki lain dengan gaya dan jalan mereka. Padahal adik tidak tahu bahawa mereka juga punya pendakian yang menyeksakan, kerana adik seringkali melihat pendaki-pendaki yang sudah di atas. Adik lupa untuk melihat mereka yang ada di bawah."
"Kepenatan ini...Menyakitkan ya kak?"
"Kalau sampai adik sudah mengalirkan banyak air mata, ya, pastilah sakit. Tapi bayangkan bagaimana sakitnya berburuk sangka pada Tuhan yang selama ini memberi kita segala benda? Bayangkan sakitnya mengkhianati kekuatan jiwa Rasulullah yang tak mudah berputus asa...? Bukankah lebih menyakitkan, dik?"
"Lalu adik perlu teruskan mendaki...? Dan lihat saja apa yang tersedia di depan nanti...?" adik menyeka air mata yang mahu gugur lagi.
Kakak mengangguk. Cukup serius.
"Sampai adik benar-benar menemukan apa yang selama ini adik cari, baharulah kakak benarkan adik berhenti mendaki."
"Adik sudah mengheret kakak lagi dalam komplikasi. Maaf. Adik harus terus mendaki lagi."
"Adik, harus benar-benar siap untuk berjalan sendiri. Kerana di akhirnya kita juga tak punya satu sama lain. Melainkan pertemuan semula di sana."
"Sana mana, kak?"
"Sorga."
Dhuha Ikhlas.
12270814
Tuesday, 26 August 2014
Saturday, 23 August 2014
Kotak Kecil dalam Hati
Bismillahirrahmanirraheem
In the Name of Allah, the most Beneficent, the Most Merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Allahumma solli 'ala sayyidina wa nabiyyina wa habeebina Muhammad.
Tiba-tiba rindu pada sosok itu,
Yang tak pernah dilihat dari dekat,
Alih-alih rindu berkunjung lebat.
Moga tsabat! :')
Sebelum masuk U, mari bersyahdu-syahdu.
Supaya nanti bila dah dijarak berbatu,
Kau masih ingat aku...! (sahabiah, mohon terasa :p)
Ada suatu kotak kecil dalam hati,
yang menyimpan semua kebusukan sang pemilik,
Meskipun sang pemilik tampil suci,
Tampak polos dan baik sekali,
Berkata-kata manis,
Memberi senyuman gratis,
Tetap saja kotak kecil dalam hati,
Melantun bunyi,
Suara kotak kecil halus sekali,
Hampir tenggelam pada telinga tuli,
Saat sang pemilik berasa tinggi,
Saat sang pemilik berbangga diri,
Saat sang pemilik mengungkit budi,
Saat sang pemilik merasa menginspirasi,
Saat sang pemilik terbang tinggi,
Melepas gerbang hamba pada Ilahi,
Tak berpijak di bumi.
Kotak kecil dalam hati berbunyi lagi,
Mengejut sang pemilik dari terus terulit mimpi,
Bahawa dia juga pendosa sehari-hari,
Bahawa orang lain juga layak dikunjungi tawfeeq,
Bahawa sorga untuk dikongsi,
Bukan hak milik peribadi...!
Kotak kecil dalam hati,
Suaranya halus mengelus,
Tapi cukup melelahkan,
Saat kedengaran.
Mampu menundukkan,
Jiwa tak keruan.
Kotak kecil dalam hati,
Inzar dari Tuhan.
In the Name of Allah, the most Beneficent, the Most Merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Allahumma solli 'ala sayyidina wa nabiyyina wa habeebina Muhammad.
Tiba-tiba rindu pada sosok itu,
Yang tak pernah dilihat dari dekat,
Alih-alih rindu berkunjung lebat.
Moga tsabat! :')
Sebelum masuk U, mari bersyahdu-syahdu.
Supaya nanti bila dah dijarak berbatu,
Kau masih ingat aku...! (sahabiah, mohon terasa :p)
![]() |
| Credits to both. |
Ada suatu kotak kecil dalam hati,
yang menyimpan semua kebusukan sang pemilik,
Meskipun sang pemilik tampil suci,
Tampak polos dan baik sekali,
Berkata-kata manis,
Memberi senyuman gratis,
Tetap saja kotak kecil dalam hati,
Melantun bunyi,
Suara kotak kecil halus sekali,
Hampir tenggelam pada telinga tuli,
Saat sang pemilik berasa tinggi,
Saat sang pemilik berbangga diri,
Saat sang pemilik mengungkit budi,
Saat sang pemilik merasa menginspirasi,
Saat sang pemilik terbang tinggi,
Melepas gerbang hamba pada Ilahi,
Tak berpijak di bumi.
Kotak kecil dalam hati berbunyi lagi,
Mengejut sang pemilik dari terus terulit mimpi,
Bahawa dia juga pendosa sehari-hari,
Bahawa orang lain juga layak dikunjungi tawfeeq,
Bahawa sorga untuk dikongsi,
Bukan hak milik peribadi...!
Kotak kecil dalam hati,
Suaranya halus mengelus,
Tapi cukup melelahkan,
Saat kedengaran.
Mampu menundukkan,
Jiwa tak keruan.
Kotak kecil dalam hati,
Inzar dari Tuhan.
Friday, 25 July 2014
It's not easy to be the little bird
Bismillahirrahmanirraheem
In the name of Allah, the most beneficent, the most merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Before anything, I'd like to remind those who read this, please renew your intention.
Cause so do I did, as the one who's writing this. I know everyone has their own justification for their writings, but I hope and I asked Allah to bless me and to save me from any bad intention, from being riya' and takabbur (auzubillahi min zalik).
My intention (insha Allah) is solely to share with all of you about my street da'wah experience, how was it going and how it really is, in reality.
So, let's get started.
I was following my sister to an Iftar gathering, of which consist of my sister and of course her-long-time-no-see- friends. I was there, most of my time were wasted doing nothing but listening. Well, it's not very much enjoying of listening when all you need to hear were just their stories about themand their ex-boyfriends(except for my sister), and some updates on their lives. So, while I was trying my best to 'listen' and making my courteously sweet face as my sign of respect (because I'm the only lil sis there), my mind was busy planning ways to escape from that not-really-helping-chit-chat. Look! I really don't have a problem dealing with reunion. I just have big problems with being stuck in a not-so-helping-conversation.
As I finished my meal and I helped them taking some pictures together, I asked permission from my sister to go some place outside (it's bazaar Hari Raya...!). Even before I agreed to join the gathering, I did planning to distribute some home-made brochures about Israeli assault on Gaza recently. Those brochures were actually some posters I downloaded from Facebook, I edited them using Photoscape (see how armature I am?) and I already asked permission from Aqsa Syarif to distribute them on individual effort. So Alhamdulillah, they've permitted me but sadly I've to do this alone because this reunion was adhoc and I thought I might don't have much time later to do the distribution. I really wanna do it with my friends but due to time constrain, I must catch up within time.
So as I went out the cafe, I hung the Palestine muffler I bought some years back on my shoulders. I admitted it really wasn't easy. Fear and cold surrounded me. I even asked myself twice before I start walking, "Am I really going to do this...? Alone...?" So, I prayed that Allah'd make easy of my journey, save me from harms, and give some strength to carry on. After that, I start walking. It is such a coincidence that a Mc Donald's restaurant was a block behind the cafe the reunion was held. So, in the darkness of night, I walked alone, I fought with my fear to carry on because my legs were already shivering. My target of distribution was the customers of Mc Donald's. But of course it's not that easy because the restaurant has two drive-thru counters. So it took me a while to ponder and to rearrange my strategy. But a strength was sent from Allah when I saw an old Malay man came out of McD and was ready to go home. So I braved myself to go near the old man, and I handed over the brochure. I told him,
"Assalamualaikum pakcik. Ni ada senarai barang2 Yahudi yang boleh kita boikot untuk melumpuhkan ekonomi yahudi. macam yang pakcik tahukan sekarang Yahudi tengah menyerang Gaza...? jadi, sebagai usaha kita untuk membantu saudara2 kita di Gaza, saya harap, kita boleh sama2 boikot barang2 Yahudi ni."
That Pak cik replied,
"Oohh...Ahh takpa. Pakcik balik tengok kat rumah laa naa,"
So I just nodded and smiled to him. But I knew pairs of eyes inside the drive-thru counter were strictly on me. Of course they wouldn't be agree to my doing because I was disturbing their source of income. Soon before that old man left, a girl from the counter yelled,
"Jalan baik-baik ye pakcik!"
Before this, I never knew that the person in charge in the counter'd shout to a customer just to greet him a 'safe journey home'. Seriously. So, that was...? Eheh. Husnudzan.
I felt relieved that I managed to approach some customers of McD. In which, a little of my target was achieved! I was still fear if suddenly the workers'd come out and push me away so that I won't disturb their business. I prepared my phone to call my sister if anything ever happen to me but Alhamdulillah, they didn't come out. It's just that their piercing eyes followed me until I crossed the road.
I entered the petrol station and still handing over the same brochures. The responses were getting better it excited me to give more! hoheh. I approached some Malays men, a Chinese young man and they listened to me well. As I walked further and I stopped in front of a restaurant. I distributed a few brochures to some families and a pair of couples. I approached a mother with three little kids and she took my brochure with a smile. Still, Allah has made it easy for me.
But it's not that beautiful somehow. There were some people I did not managed to approach because...I don't know. Yeah. I might look like some 'sales-girl-trying-to-promote-some-products' , and I knew some people really cannot get in with that but hey, I still deserved a chance to explain, didn't I? I'm just handing over some brochures but when I came to them and I didn't even say a word but they're already said a big "no-no" to me. And that, really took me down. Many times, I told myself, "Hey, you're not looking like a salesgirl and you're doing a noble,right thing. So don't be shy to carry on." Since I was doing this on my two feet, it was me myself who had to motivate myself.
There were many eyes spotting on me, yeah, I was only a girl wearing dress and muffler, walking around , like some salesgirl promoting something, and giving people some brochures. Only Allah knows how embarrassed and feared I was, but I have to carry on. Because this is a chance! The crowd. The bazaar. This is the right time to bring information closer to people. We might be surrounded of highly-awareness people about what is happening right there in Gaza, but we cannot justified other people out there were just like us. In fact, there are still millions of Muslims out there not knowing or even bother to care about the assault on Gaza! When I was sitting in the car on my way back home and I stuck in the jam, I felt sorry for not having enough time, enough brochures and enough strength to approach more people I saw were busy bargaining for the upcoming Eid!
After all, this effort might seemed so small and useless. People might asked me, "why are you busy doing this when it is actually never really exploding any impact?", those people I approached might just nodded in front of me just as a sign of respect, the brochures might be thrown away, the brochures might not even seemed to be educating them, the McD workers might have marked me as a 'bug' but...
Allah knows best why I did this. Insha Allah, this small effort has its own benefit.
I still do not own the chance to help the Gazans lively,
I still can't take up weapons to be with them,
I still can't donate so much to them,
I still can't demonstrate to show my solidarity towards them,
I still can't speak my voice to the UN so that they'd stop being a puppet for the Zionists,
I still can't feel the pain inside of their broken hearts and teared souls,
I still can't wash their flooding blood,
But this, might be considered as my effort to help them.
So that on the Judgment Day, insha Allah this little effort'd be my witness to help me answering my Lord,
When He asks me,
"What have you done to help your suffered brothers (not only the Palestinians)?"
And may this, be the barrier between me and the hell fire,
In which I might be thrown inside (auzubillah) for being carried away by this transient world,
For being deaf and blind towards my brothers' pain and suffers,
But being awake and quick enough in terms of materialism and glamorous.
It was narrated by Ibn Katheer about the story of a small bird, which tried to help Prophet Ibrahim a.s. As Prophet Ibrahim a.s destroyed his people's so-call-gods,preached them about the true deen, that Allah is the Only god to be worship, to leave all the nonsense beliefs from their ancestors, to surrender to Allah, his people really got mad. They were mad because they're drown in their own stupidity and confusion. They failed to reply everything questioned by Prophet Ibrahim a.s. They decided that Prophet Ibrahim must be killed for he was bringing new teachings and destroyed their man-made gods. So they gathered fire woods and set up a place to burn Prophet Ibrahim a.s
But there's a flock of birds were watching this and there came a little bird carrying water inside his beak. The amount of water was really not much (you can imagine how big a little bird's beak is), but he carried on spilling water on the fire so that Prophet Ibrahim'd be saved. Other birds were asking him,
"Why on earth would you do that? It won't be helping much."
But he replied,
"This is my effort to save Prophet Ibrahim a.s. Soon, if I were asked by Allah about what did I do when I saw His prophet being burnt, I hope my doing could answer on my behalf."
With the Greatness of Allah, He saved Prophet Ibrahim a.s. from the fire, He ordered the fire to be cold, and to save Prophet Ibrahim from burning, so when the fire was gone, the people of Prophet Ibrahim were so shocked to see how fine he is, though. Even the fire can't kill him, if Allah does not allow it.
This is a warranty from the Almighty,
"Those of the believers who sit still, other than those who have a (disabling) hurt, are not on an equality with those who strive in the path of Allah with their wealth and lives. Allah hath conferred on those who strive with their wealth and and lives a rank above the sedentary. Unto each Allah hath promised good, but He hath bestowed on those who strive a great reward above the sedentary;" [An-Nisa;95]
As we can see here, it's not the small help from the little bird that saved Prophet Ibrahim,
But the small help from the little bird is a proof and a lesson,
That Allah does not judge us by the outcome,
But how far we would go for an effort.
That's all from me .
May this sharing benefit us,
Little and more.
In the name of Allah, the most beneficent, the most merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Before anything, I'd like to remind those who read this, please renew your intention.
Cause so do I did, as the one who's writing this. I know everyone has their own justification for their writings, but I hope and I asked Allah to bless me and to save me from any bad intention, from being riya' and takabbur (auzubillahi min zalik).
My intention (insha Allah) is solely to share with all of you about my street da'wah experience, how was it going and how it really is, in reality.
So, let's get started.
I was following my sister to an Iftar gathering, of which consist of my sister and of course her-long-time-no-see- friends. I was there, most of my time were wasted doing nothing but listening. Well, it's not very much enjoying of listening when all you need to hear were just their stories about them
As I finished my meal and I helped them taking some pictures together, I asked permission from my sister to go some place outside (it's bazaar Hari Raya...!). Even before I agreed to join the gathering, I did planning to distribute some home-made brochures about Israeli assault on Gaza recently. Those brochures were actually some posters I downloaded from Facebook, I edited them using Photoscape (see how armature I am?) and I already asked permission from Aqsa Syarif to distribute them on individual effort. So Alhamdulillah, they've permitted me but sadly I've to do this alone because this reunion was adhoc and I thought I might don't have much time later to do the distribution. I really wanna do it with my friends but due to time constrain, I must catch up within time.
So as I went out the cafe, I hung the Palestine muffler I bought some years back on my shoulders. I admitted it really wasn't easy. Fear and cold surrounded me. I even asked myself twice before I start walking, "Am I really going to do this...? Alone...?" So, I prayed that Allah'd make easy of my journey, save me from harms, and give some strength to carry on. After that, I start walking. It is such a coincidence that a Mc Donald's restaurant was a block behind the cafe the reunion was held. So, in the darkness of night, I walked alone, I fought with my fear to carry on because my legs were already shivering. My target of distribution was the customers of Mc Donald's. But of course it's not that easy because the restaurant has two drive-thru counters. So it took me a while to ponder and to rearrange my strategy. But a strength was sent from Allah when I saw an old Malay man came out of McD and was ready to go home. So I braved myself to go near the old man, and I handed over the brochure. I told him,
"Assalamualaikum pakcik. Ni ada senarai barang2 Yahudi yang boleh kita boikot untuk melumpuhkan ekonomi yahudi. macam yang pakcik tahukan sekarang Yahudi tengah menyerang Gaza...? jadi, sebagai usaha kita untuk membantu saudara2 kita di Gaza, saya harap, kita boleh sama2 boikot barang2 Yahudi ni."
That Pak cik replied,
"Oohh...Ahh takpa. Pakcik balik tengok kat rumah laa naa,"
So I just nodded and smiled to him. But I knew pairs of eyes inside the drive-thru counter were strictly on me. Of course they wouldn't be agree to my doing because I was disturbing their source of income. Soon before that old man left, a girl from the counter yelled,
"Jalan baik-baik ye pakcik!"
Before this, I never knew that the person in charge in the counter'd shout to a customer just to greet him a 'safe journey home'. Seriously. So, that was...? Eheh. Husnudzan.
I felt relieved that I managed to approach some customers of McD. In which, a little of my target was achieved! I was still fear if suddenly the workers'd come out and push me away so that I won't disturb their business. I prepared my phone to call my sister if anything ever happen to me but Alhamdulillah, they didn't come out. It's just that their piercing eyes followed me until I crossed the road.
I entered the petrol station and still handing over the same brochures. The responses were getting better it excited me to give more! hoheh. I approached some Malays men, a Chinese young man and they listened to me well. As I walked further and I stopped in front of a restaurant. I distributed a few brochures to some families and a pair of couples. I approached a mother with three little kids and she took my brochure with a smile. Still, Allah has made it easy for me.
But it's not that beautiful somehow. There were some people I did not managed to approach because...I don't know. Yeah. I might look like some 'sales-girl-trying-to-promote-some-products' , and I knew some people really cannot get in with that but hey, I still deserved a chance to explain, didn't I? I'm just handing over some brochures but when I came to them and I didn't even say a word but they're already said a big "no-no" to me. And that, really took me down. Many times, I told myself, "Hey, you're not looking like a salesgirl and you're doing a noble,right thing. So don't be shy to carry on." Since I was doing this on my two feet, it was me myself who had to motivate myself.
There were many eyes spotting on me, yeah, I was only a girl wearing dress and muffler, walking around , like some salesgirl promoting something, and giving people some brochures. Only Allah knows how embarrassed and feared I was, but I have to carry on. Because this is a chance! The crowd. The bazaar. This is the right time to bring information closer to people. We might be surrounded of highly-awareness people about what is happening right there in Gaza, but we cannot justified other people out there were just like us. In fact, there are still millions of Muslims out there not knowing or even bother to care about the assault on Gaza! When I was sitting in the car on my way back home and I stuck in the jam, I felt sorry for not having enough time, enough brochures and enough strength to approach more people I saw were busy bargaining for the upcoming Eid!
After all, this effort might seemed so small and useless. People might asked me, "why are you busy doing this when it is actually never really exploding any impact?", those people I approached might just nodded in front of me just as a sign of respect, the brochures might be thrown away, the brochures might not even seemed to be educating them, the McD workers might have marked me as a 'bug' but...
Allah knows best why I did this. Insha Allah, this small effort has its own benefit.
I still do not own the chance to help the Gazans lively,
I still can't take up weapons to be with them,
I still can't donate so much to them,
I still can't demonstrate to show my solidarity towards them,
I still can't speak my voice to the UN so that they'd stop being a puppet for the Zionists,
I still can't feel the pain inside of their broken hearts and teared souls,
I still can't wash their flooding blood,
But this, might be considered as my effort to help them.
So that on the Judgment Day, insha Allah this little effort'd be my witness to help me answering my Lord,
When He asks me,
"What have you done to help your suffered brothers (not only the Palestinians)?"
And may this, be the barrier between me and the hell fire,
In which I might be thrown inside (auzubillah) for being carried away by this transient world,
For being deaf and blind towards my brothers' pain and suffers,
But being awake and quick enough in terms of materialism and glamorous.
It was narrated by Ibn Katheer about the story of a small bird, which tried to help Prophet Ibrahim a.s. As Prophet Ibrahim a.s destroyed his people's so-call-gods,preached them about the true deen, that Allah is the Only god to be worship, to leave all the nonsense beliefs from their ancestors, to surrender to Allah, his people really got mad. They were mad because they're drown in their own stupidity and confusion. They failed to reply everything questioned by Prophet Ibrahim a.s. They decided that Prophet Ibrahim must be killed for he was bringing new teachings and destroyed their man-made gods. So they gathered fire woods and set up a place to burn Prophet Ibrahim a.s
But there's a flock of birds were watching this and there came a little bird carrying water inside his beak. The amount of water was really not much (you can imagine how big a little bird's beak is), but he carried on spilling water on the fire so that Prophet Ibrahim'd be saved. Other birds were asking him,
"Why on earth would you do that? It won't be helping much."
But he replied,
"This is my effort to save Prophet Ibrahim a.s. Soon, if I were asked by Allah about what did I do when I saw His prophet being burnt, I hope my doing could answer on my behalf."
With the Greatness of Allah, He saved Prophet Ibrahim a.s. from the fire, He ordered the fire to be cold, and to save Prophet Ibrahim from burning, so when the fire was gone, the people of Prophet Ibrahim were so shocked to see how fine he is, though. Even the fire can't kill him, if Allah does not allow it.
This is a warranty from the Almighty,
"Those of the believers who sit still, other than those who have a (disabling) hurt, are not on an equality with those who strive in the path of Allah with their wealth and lives. Allah hath conferred on those who strive with their wealth and and lives a rank above the sedentary. Unto each Allah hath promised good, but He hath bestowed on those who strive a great reward above the sedentary;" [An-Nisa;95]
As we can see here, it's not the small help from the little bird that saved Prophet Ibrahim,
But the small help from the little bird is a proof and a lesson,
That Allah does not judge us by the outcome,
But how far we would go for an effort.
That's all from me .
May this sharing benefit us,
Little and more.
Wednesday, 23 July 2014
Tempat Kerja Pilihan Saya
Bismillahirrahmanirraheem
In the Name of Allah, the most beneficent,the most merciful.
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Kembali ke beberapa tahun lalu,
Ketika itu almarhumah nenek masih hidup lagi,
Tapi sudah sakit-sakit.
Seringkali dari rumah ke hospital,
Berulang-alik.
Kata orang, sakit tua.
Biasalah.
Tapi lama- kelamaan , nenek pergi jua.
Doktor pun manusia biasa,
Sehebat manapun dia,
Setinggi manapun sijil sub kepakarannya,
Doktor sekadar merawat,
Tapi Allah yang berkuasa menghidup dan mematikan.
Al-Fatihah untuk nenek, pada saat ingatan menjengah.
Biasalah tu, nak dekat2 raya ni.
Beberapa kali sewaktu ke hospital,
kalau waktu itu agak lengang,
Dan Abah pun punyai mood untuk berbual,
Kami akan bicara rencam topik.
Tapi pernah suatu saat melalui lobi
Di hospital swasta milik jutawan dermawan Cina, yang membawa cogan kata,
"Hospital tanpa laba",
Abah berhenti melangkah.
Saat itu kami di hadapan papan tanda nama doktor-doktor yang bertugas di hospital.
Papan nama itu sudah sering menjadi tumpuan saya,
Sedari saya tampil ke mari awal-awal dulu,
Sewaktu menemani nenek menjalani check-up,
Atau untuk melawat sesiapa.
Mana saya tahu,
papan nama itu turut mengamit perhatian Abah.
Abah berdiri di sebelah papan nama itu,
lalu tersenyum memandangnya.
Padahal saya masih ligat berfikir,
"Di mana semua doktor-doktor anak Melayu yang saban tahun ditaja ke universiti2 hebat di negara2 serata dunia..?"
Tiba-tiba Abah lemparkan suatu kenyataan.
"Insha Allah, suatu hari nanti, nama anak Abah akan ada kat sini."
Abah tersenyum lagi.
Saya telan liur. Ameen.
"Kakak nak gantikan doktor mana ni?"
Saya yang sememangnya tak tinggi,terhincut-hincut menunjukkan ke sebaris nama, yang menyandang jawatan dalam bidang kepakaran yang saya idamkan.
Abah tersenyum lagi, lalu mengusap kepala saya,
"Abah doakan."
Dan saya terus membesar, dan menambah ketinggian (sedikit).
Terus mengejar cita-cita yang pada mata kasar manusia,
Sudah hampir mustahil.
Mana mungkin untuk berpatah balik ke muara,
Kalau sudah sampai ke tebing pada waktu senja?
Dan saya teringat sewaktu temuduga universiti tempoh hari,
saya ditembak dengan soalan yang paling saya tak duga.
"Kamu nak jadi apa bila besar nanti..?"
Saya kaget. Yang menemuramah itu adalah orang kanan fakulti Pengajian Islam, dan seorang lagi pensyarahnya.
Saya ambil masa agak lama untuk menjawabnya,
Kerana dilemma, antara berselindung atau mengaku jujur.
"Err, academician?"
"Ooh! Pensyarah? Macam doktor Wan?" beliau menunjukkan kepada pensyarah di sebelahnya itu, sambil ketawa ramah.
Padahal dalam hati saya jenuh berperang.
saya mahu menjadi academician, bijak pandai, ulama', doktor ummah!
Kerana saya yakin sekiranya saya mengatakan,
"Saya ingin menjadi doktor. "
Mereka pasti kaget, lalu berkemungkinan menyerbu saya dengan rencam soalan yang sudah malas untuk saya carikan jawapan.
"Saya ingin menjadi doktor, Prof. Doktor untuk ummah!"
"Lalu kenapa kamu ambil opsyen ini? Kenapa tak terus ke fakulti Sains atau Perubatan? Kenapa bazir peluang orang lain? Apa jaminan kamu untuk ke bidang yang 360 darjah berlainan dengan sijil kamu? Kenapa hadiri temuduga ini? " Ahh. Dan macam-macam lagi 'kenapa' yang tak mampu saya tekuni.
Saya mintak maaf, membohongi Prof!
Dan saya ingin katakan ini kepada Abah,
"Nanti, sesudah Abah melihat nama kakak di papan itu, izinkan kakak memilih tempat kerja yang lebih kakak senangi. Insha Allah sekiranya Allah memberi kesempatan dengan menempatkan kakak di situ, maka hari itu Abah akan mengerti, kenapa kakak memilih cita-cita ini. Tapi andaikata apa yang kakak hajat tidak selari dengan perancangan Tuhan, Abah doakanlah supaya kakak redhan. Dan supaya kakak selalu ingat, bahawa Allah tidak akan pernah salah meletakkan tempat untuk hambaNya, dan Allah tidak akan sekali-kali menzalimi hambaNya, yang lemah dan serba kerdil ini."
"Hospital ini tidaklah secanggih hospital2 di tempat kita. Tapi saya memilih untuk bekerja di sini. Supaya nanti boleh saya sebarkan melalui hati, tanah air Malaysia yang saya kasihi. Ini bukan rumah hantu. Ini rumah merawat yang pondasinya kasih sayang dan kemanusiaan, tapi telah dibedil oleh busuk kebencian. "
In the Name of Allah, the most beneficent,the most merciful.
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Kembali ke beberapa tahun lalu,
Ketika itu almarhumah nenek masih hidup lagi,
Tapi sudah sakit-sakit.
Seringkali dari rumah ke hospital,
Berulang-alik.
Kata orang, sakit tua.
Biasalah.
Tapi lama- kelamaan , nenek pergi jua.
Doktor pun manusia biasa,
Sehebat manapun dia,
Setinggi manapun sijil sub kepakarannya,
Doktor sekadar merawat,
Tapi Allah yang berkuasa menghidup dan mematikan.
Al-Fatihah untuk nenek, pada saat ingatan menjengah.
Biasalah tu, nak dekat2 raya ni.
Beberapa kali sewaktu ke hospital,
kalau waktu itu agak lengang,
Dan Abah pun punyai mood untuk berbual,
Kami akan bicara rencam topik.
Tapi pernah suatu saat melalui lobi
Di hospital swasta milik jutawan dermawan Cina, yang membawa cogan kata,
"Hospital tanpa laba",
Abah berhenti melangkah.
Saat itu kami di hadapan papan tanda nama doktor-doktor yang bertugas di hospital.
Papan nama itu sudah sering menjadi tumpuan saya,
Sedari saya tampil ke mari awal-awal dulu,
Sewaktu menemani nenek menjalani check-up,
Atau untuk melawat sesiapa.
Mana saya tahu,
papan nama itu turut mengamit perhatian Abah.
Abah berdiri di sebelah papan nama itu,
lalu tersenyum memandangnya.
Padahal saya masih ligat berfikir,
"Di mana semua doktor-doktor anak Melayu yang saban tahun ditaja ke universiti2 hebat di negara2 serata dunia..?"
Tiba-tiba Abah lemparkan suatu kenyataan.
"Insha Allah, suatu hari nanti, nama anak Abah akan ada kat sini."
Abah tersenyum lagi.
Saya telan liur. Ameen.
"Kakak nak gantikan doktor mana ni?"
Saya yang sememangnya tak tinggi,terhincut-hincut menunjukkan ke sebaris nama, yang menyandang jawatan dalam bidang kepakaran yang saya idamkan.
Abah tersenyum lagi, lalu mengusap kepala saya,
"Abah doakan."
Dan saya terus membesar, dan menambah ketinggian (sedikit).
Terus mengejar cita-cita yang pada mata kasar manusia,
Sudah hampir mustahil.
Mana mungkin untuk berpatah balik ke muara,
Kalau sudah sampai ke tebing pada waktu senja?
Dan saya teringat sewaktu temuduga universiti tempoh hari,
saya ditembak dengan soalan yang paling saya tak duga.
"Kamu nak jadi apa bila besar nanti..?"
Saya kaget. Yang menemuramah itu adalah orang kanan fakulti Pengajian Islam, dan seorang lagi pensyarahnya.
Saya ambil masa agak lama untuk menjawabnya,
Kerana dilemma, antara berselindung atau mengaku jujur.
"Err, academician?"
"Ooh! Pensyarah? Macam doktor Wan?" beliau menunjukkan kepada pensyarah di sebelahnya itu, sambil ketawa ramah.
Padahal dalam hati saya jenuh berperang.
saya mahu menjadi academician, bijak pandai, ulama', doktor ummah!
Kerana saya yakin sekiranya saya mengatakan,
"Saya ingin menjadi doktor. "
Mereka pasti kaget, lalu berkemungkinan menyerbu saya dengan rencam soalan yang sudah malas untuk saya carikan jawapan.
"Saya ingin menjadi doktor, Prof. Doktor untuk ummah!"
"Lalu kenapa kamu ambil opsyen ini? Kenapa tak terus ke fakulti Sains atau Perubatan? Kenapa bazir peluang orang lain? Apa jaminan kamu untuk ke bidang yang 360 darjah berlainan dengan sijil kamu? Kenapa hadiri temuduga ini? " Ahh. Dan macam-macam lagi 'kenapa' yang tak mampu saya tekuni.
Saya mintak maaf, membohongi Prof!
Dan saya ingin katakan ini kepada Abah,
"Nanti, sesudah Abah melihat nama kakak di papan itu, izinkan kakak memilih tempat kerja yang lebih kakak senangi. Insha Allah sekiranya Allah memberi kesempatan dengan menempatkan kakak di situ, maka hari itu Abah akan mengerti, kenapa kakak memilih cita-cita ini. Tapi andaikata apa yang kakak hajat tidak selari dengan perancangan Tuhan, Abah doakanlah supaya kakak redhan. Dan supaya kakak selalu ingat, bahawa Allah tidak akan pernah salah meletakkan tempat untuk hambaNya, dan Allah tidak akan sekali-kali menzalimi hambaNya, yang lemah dan serba kerdil ini."
"Hospital ini tidaklah secanggih hospital2 di tempat kita. Tapi saya memilih untuk bekerja di sini. Supaya nanti boleh saya sebarkan melalui hati, tanah air Malaysia yang saya kasihi. Ini bukan rumah hantu. Ini rumah merawat yang pondasinya kasih sayang dan kemanusiaan, tapi telah dibedil oleh busuk kebencian. "
Monday, 21 July 2014
Adek-Beradek 'Lain Mak, Pak Asing'
Bismillahirrahmanirraheem
In the Name of Allah, the most beneficent, the most merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Selamat datang 10 malam terakhir.
Menyoroti Ramadhan dengan pandangan mata bahwa ia akan berakhir.
Oisyh! Pedih mata!
Awal kalam,
Ucapan takziah dan doa dipanjangkan buat keluarga penumpang2 dan krew2 yg terlibat dalam nahas MH17, juga kehilangan MH 370.
Saya tak mampu untuk mengulas panjang mengenai soal ini kerana kedua-duanya masih terumbang-ambing, teroleng-oleng di lautan 'persepsi' dan 'hipotesis'. Belum ada sebarang keputusan yang membolehkan saya mengatakan sesuatu sebagai 'muktamad'. Cuma saya yakin, kedua-dua ini adalah ujian Allah untuk saya, untuk anda, dan untuk semua rakyat Malaysia khususnya. Dalam dunia, ujian apakah yang mudah...?
Pasti, saya tidaklah sekuat anda yang diuji dengan kehilangan sedemikian rupa, tapi saya masih cinta akan negara ini, dan saya juga terkena tempias 'air mata'nya. Untuk anda2, semoga kuat!
Sekarang menuju ke topik perbicaraan.
Alkisah, semenjak dua menjak Zionis laknatullah menyerang Ghazzah beberapa minggu lalu, sana-sini, di masjid kampung seberang dan kampung sebelah, di dinding2 iklan dipenuhi dengan rencam bunting (banner). Jadi, sepanjang perjalanan ke mana-mana, saya yang tercatuk di kerusi penumpang kereta ayah saya yang berjenama nasional itu(sebab saya tak reti bawak kereta lagii), saya terus leka menjadi pemerhati yang setia.
Jalan sikit, banner ini.
"Jemaah 'Mak Jemah' mengalu-alukan sumbangan anda ke akaun kami sebagai dana untuk membantu saudara2 kita di Palestin."
Ke depan lagi, banner itu.
"Mahu menambah saham akhirat? Ayuh bersama jemaah 'Lebai Tuah' menyumbang ke akaun prihatin Palestin kami."
Kona kanan, ehh..jumpa pulak banner ni,
"Promosi berbuka puasa dan bersolat tarawikh berimamkan imam dari Palestin. Anjuran jemaah 'Bunga Raya'. Tempat terhad.Daftar segera."
Di dinding2 tanah perkuburan pulak,
"Kami dari jemaah 'Adik Comel' membantah sekeras-kerasnya keganasan Zionis ke atas Palestin."
Adoi.
Pening kepala.
Mesti kaya kan syarikat2 banner. Boleh la beli baju raya banyak sikit tahun ni.Langsir pun boleh tukar baru dah . Lalala.
Haru.
[Dengan adanya post yang menyentuh isu jemaah2 ini, bukanlah menunjukkan saya ini anti jemaah, ataupun orang yang trcicir dari jemaah (nanges saya), ataupun orang yang tidak faham akan kepelbagaian jemaah.]
Sebaliknya, saya sangat menghargai akan wujudnya jemaah yang pelbagai, yang mana jemaah2 ini pastilah terhasil di atas maslahat ummah yang terlalu pelbagai dan memerlukan seribu satu cara untuk disentuh dan ditangani.
Saya cukup hadam bahawa kepelbagaian jemaah tidak sepatutnya melemahkan, malah saling menguatkan dan saling melengkapi. Ibarat batu-bata yang saling membina, kerana hakikatnya jemaah2 Islam ini pastilah tertubuh dek kerana semangat yang melonjak2 dari mukminin-mukminat yang mengerti Islam dan mahukan kebaikan dari Islam itu dikongsi dan disebarkan merata. Dan, bukankah mukmin itu bersaudara...?
"Sesungguhnya orang2 yang beriman itu bersaudara...." [Al-Hujurat;10]
Para amilin jemaah2 sekalian pasti sudah hadam, malah lumat mungkin firman persaudaraan di atas,
cuma saja, rajin jari malam ni nak menaip, sekadar mengingatkan kembali.
Namun yang membuat saya jauh termenung, terfikir, terbayang2 (dah macam org gila bayang) ialah...
Atas tapak apakah yang membolehkan para jemaah sekalian bergabung dan menjadi satu entiti yang besar, agam,gagah, canggih, bervisi, berwawasan, bertoleransi, dan bersuara kuat yang akhirnya membuahkan hasil....?
Atas isu kalimah Allah...?
Atau atas isu perkauman...?
Atau atas isu kenegaraan...?
Atau atas isu ummah....?
Saya faham akan masing2 jemaah mempunyai marhalah yang tertentu. Adapun, hadaf(tujuan)nya masih sama, (skrip jawapan mana2 jemaah, bila ditanya soal ghayah), iaitu mardhatillah. Ya. tujuan ini tidak harus lain. Kerana kunci sorga adalah keredhaan Allah. Lalu mana mungkin ada ahli jemaah yang sudah berpenat lelah di dunia tetapi tak mahukan sorga Allah, kan?
Yang berbeza hanyalah pembawakan, pendekatan, manhaj, dan rujukan. Okay. Itu kira masing2 punya style lah. Saya menghormatinya dan saya raikan perbezaan ini.^___^
Cuma yang terus-terusan membuat saya bingung, ialah pada rapuhnya solidariti kita, walaupun terhadap isu ummah.
"Gila kau solidariti kita rapuh...! Kita antara yang paling lantang bersuara kot..." Okay. Sejenis disclaimer.
Ya! Solidariti kita rapuh. Sangat rapuh terhadap apa yang sedang menghujani saudara2 kita di Ghazzah.
Kita mengaku kita prihatin, kita cakna, kita kasihan, kita turut merasa beban, kita sanggup carikan sumbangan, kita sanggup boikot, kita sanggup doakan, kita akan selalu hashtag sana-sini.
"Jemaah aku dah berusaha sehabis mungkin. Siap buat poster, banner bagai..."
"Ala...Jemaah kita dah bukak akaun khas untuk Palestin."
"Jemaah gua bro, siap tubuhkan unit khas lagi tau untuk bantu Palestin ni."
"Enta tahu, jemaah ana siap merekrut bakal2 tentera Al-Qassam versi Malaysia. Jemaah enta ada..?"
Fuhh...Juling biji mata.
Ya. Kita mengaku kita saudara, kita ada di sini untuk mereka, kita tolong mereka itu,kita bantu mereka ini, kita hantarkan makanan dan bantuan ubat2an untuk mereka, kita hantarkan doktor2 untuk mereka, kita jual t-shirt lepastu 20% masuk dalam akaun mereka, kita Qunut Nazilah setiap subuh untuk mereka, kita kasi bankrupt Mekdi dengan Setabak sebagai solidariti untuk mereka. Lalu itu sudah cukup...?
"Kau ni tak reti-reti ke nak bersyukur...? Orang dah sanggup buat semua tu dah kira jihad apa...? Tak payah la nak harap tinggi2 sangat...Okay la tu, jemaah tu buat sikit, jemaah ni buat sikit..."
Tak boleh ke, kita buang sekejap baju2 ananiyah yang menyarungi kita dengan nama jemaah yang kita bangga2 ...?
Tak boleh ke kita pakat2 semua jemaah Islam buat satu banner (banyak pun boleh) dengan mesej yang tegas lagi jelas, yang menunjukkan kesepakatan semua jemaah Islam di Malaysia untuk menentang keganasan di Ghazzah...?
Tak boleh ke kita pakat2 kumpul duit dari jemaah tu sikit, jemaah ni sikit, lepastu kita jemputlah mana-mana penceramah datang dan waktu nak bagi sumbangan tu, mention je gini.."Ini dari semua jemaah Islam yang ada di Malaysia..."...?
Tak boleh ke kita satukan je tabung2 sumbangan untuk Ghazzah supaya amaunnya masyuk yang subhanallah...?
Tak boleh ke kita design flyers utk melancarkan jihad ekonomi bagi melumpuhkan ekonomi Israel atas nama 'umat Islam di Malaysia'....?
Tak boleh ke kita berhenti kejap, mencari nama dan jenama semata-mata supaya orang nampak, "Oh,jemaah ni baguslah, Aktif. cakna Palestin pulak tu." [Okay. Mungkin bukan itu niatnya, sekadar memelihara hak rekacipta idea, ataupun niat2 murni yang lain. Masing2 punyai justifikasi untuk itu.Saya tidak tuduh. Tapi mungkin... Saya tidak silap meneka...?]
Tak boleh kah...?
Anda mungkin berfikir bahawa saya ini tidak matang, atau menulis berdasarkan emosi, atau tidak professional, atau tidak menghargai kepelbagaian jemaah,atau mengantuk.(heh. pandai anda teka) tapi serious...
Saya sudah bosan.
Bosan dengan ketidaksatuan ini.
Sedarkah anda bahawa dalam negara2 Islam yang tidak bersatu ini, di sebuah negara kecil bernama Malaysia, wujud lagi berpuluh-puluh jemaah Islam yang tidak bersatu...?
Susah sangat agaknya ya, untuk bersatu...?
Tidak perlu pun bersatu dalam semua hal kerana saya percaya pada khilaf terdapat rahmat, tetapi bagi menyatakan sokongan untuk saudara2 kita, sekurang2nya biarlah kita ini nampak seperti 'bersatu'.
Namun, semua kerisauan dan gundah-gula-gulana saya ini terubat melihat poster ini,
Walaupun tidaklah semua jemaah Islam yang hebat mencipta nama di Malaysia ini menyertai himpunan lepas solat Jumaat-dalam-sesak-panas-waktu-puasa-lagi-tu ini, tapi saya mula percaya, bahawa sebenarnya masih ada lagi jemaah2 yang mampu memadamkan perbezaan2 kecil dan meraikan persamaan2 besar, lalu membolehkan masing2 untuk berlapang dada untuk saling membahu, especially dalam menangani isu ummah.
Kesatuan ini, moga membuahkan hasil yang lumayan.
Kesatuan ini, moga memperdengarkan mereka terhadap suara2 kita.
Kesatuan ini, moga membuka mata mereka bahawa kita tidaklah ego dalam jubah ananiyah jemaah kita.
Kesatuan ini, moga mencetuskan hormat pada kawan, dan gerun pada lawan.
Kesatuan ini, moga terus membawa ke sorga.
Suka untuk saya sertakan di sini, kalam bernas dari seorang Al-Akh [boleh terus ke blog osem beliau di sini] yang saya hormati di jalan dakwah :
"Seperti apa jemaah islam itu:
Untuk semua bilah kata2 yang saya taipkan, no offense. Ini adalah buah fikiran yang tulus lahir dari minda saya yang berkecamuk memikirkan perpecahan yang merugikan ini. Anda kurang bersetuju, atau anda mempunyai pandangan yang akan meredakan 'kecamuk fikiran' saya ini, silakan berkongsi pandangan secara terhormat, seperti seorang Muslim yang berpuasa gituuu.
Sebarang keterlanjuran, terasa hati, tertuduh lelebih, saya mintak maaf.
tapi, itulah realiti.
Sekian.
Kredit tajuk : Lelucon Abah. Dari mana entah abah dapat perkataan 'Adik-beradik lain mak pak asing', itu saya tak tahu. Mungkin dari tok-tok guru Abah yang sekarang pasti saya tak sempat jumpa.
In the Name of Allah, the most beneficent, the most merciful
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Selamat datang 10 malam terakhir.
Menyoroti Ramadhan dengan pandangan mata bahwa ia akan berakhir.
Oisyh! Pedih mata!
Awal kalam,
Ucapan takziah dan doa dipanjangkan buat keluarga penumpang2 dan krew2 yg terlibat dalam nahas MH17, juga kehilangan MH 370.
Saya tak mampu untuk mengulas panjang mengenai soal ini kerana kedua-duanya masih terumbang-ambing, teroleng-oleng di lautan 'persepsi' dan 'hipotesis'. Belum ada sebarang keputusan yang membolehkan saya mengatakan sesuatu sebagai 'muktamad'. Cuma saya yakin, kedua-dua ini adalah ujian Allah untuk saya, untuk anda, dan untuk semua rakyat Malaysia khususnya. Dalam dunia, ujian apakah yang mudah...?
Pasti, saya tidaklah sekuat anda yang diuji dengan kehilangan sedemikian rupa, tapi saya masih cinta akan negara ini, dan saya juga terkena tempias 'air mata'nya. Untuk anda2, semoga kuat!
![]() |
| Hasil kreatif orang Taiping kiter |
Sekarang menuju ke topik perbicaraan.
Alkisah, semenjak dua menjak Zionis laknatullah menyerang Ghazzah beberapa minggu lalu, sana-sini, di masjid kampung seberang dan kampung sebelah, di dinding2 iklan dipenuhi dengan rencam bunting (banner). Jadi, sepanjang perjalanan ke mana-mana, saya yang tercatuk di kerusi penumpang kereta ayah saya yang berjenama nasional itu
Jalan sikit, banner ini.
"Jemaah 'Mak Jemah' mengalu-alukan sumbangan anda ke akaun kami sebagai dana untuk membantu saudara2 kita di Palestin."
Ke depan lagi, banner itu.
"Mahu menambah saham akhirat? Ayuh bersama jemaah 'Lebai Tuah' menyumbang ke akaun prihatin Palestin kami."
Kona kanan, ehh..jumpa pulak banner ni,
"Promosi berbuka puasa dan bersolat tarawikh berimamkan imam dari Palestin. Anjuran jemaah 'Bunga Raya'. Tempat terhad.Daftar segera."
Di dinding2 tanah perkuburan pulak,
"Kami dari jemaah 'Adik Comel' membantah sekeras-kerasnya keganasan Zionis ke atas Palestin."
Adoi.
Pening kepala.
Mesti kaya kan syarikat2 banner. Boleh la beli baju raya banyak sikit tahun ni.Langsir pun boleh tukar baru dah . Lalala.
Haru.
[Dengan adanya post yang menyentuh isu jemaah2 ini, bukanlah menunjukkan saya ini anti jemaah, ataupun orang yang trcicir dari jemaah (nanges saya), ataupun orang yang tidak faham akan kepelbagaian jemaah.]
Sebaliknya, saya sangat menghargai akan wujudnya jemaah yang pelbagai, yang mana jemaah2 ini pastilah terhasil di atas maslahat ummah yang terlalu pelbagai dan memerlukan seribu satu cara untuk disentuh dan ditangani.
Saya cukup hadam bahawa kepelbagaian jemaah tidak sepatutnya melemahkan, malah saling menguatkan dan saling melengkapi. Ibarat batu-bata yang saling membina, kerana hakikatnya jemaah2 Islam ini pastilah tertubuh dek kerana semangat yang melonjak2 dari mukminin-mukminat yang mengerti Islam dan mahukan kebaikan dari Islam itu dikongsi dan disebarkan merata. Dan, bukankah mukmin itu bersaudara...?
"Sesungguhnya orang2 yang beriman itu bersaudara...." [Al-Hujurat;10]
Para amilin jemaah2 sekalian pasti sudah hadam, malah lumat mungkin firman persaudaraan di atas,
cuma saja, rajin jari malam ni nak menaip, sekadar mengingatkan kembali.
Namun yang membuat saya jauh termenung, terfikir, terbayang2 (dah macam org gila bayang) ialah...
Atas tapak apakah yang membolehkan para jemaah sekalian bergabung dan menjadi satu entiti yang besar, agam,gagah, canggih, bervisi, berwawasan, bertoleransi, dan bersuara kuat yang akhirnya membuahkan hasil....?
Atas isu kalimah Allah...?
Atau atas isu perkauman...?
Atau atas isu kenegaraan...?
Atau atas isu ummah....?
Saya faham akan masing2 jemaah mempunyai marhalah yang tertentu. Adapun, hadaf(tujuan)nya masih sama, (skrip jawapan mana2 jemaah, bila ditanya soal ghayah), iaitu mardhatillah. Ya. tujuan ini tidak harus lain. Kerana kunci sorga adalah keredhaan Allah. Lalu mana mungkin ada ahli jemaah yang sudah berpenat lelah di dunia tetapi tak mahukan sorga Allah, kan?
Yang berbeza hanyalah pembawakan, pendekatan, manhaj, dan rujukan. Okay. Itu kira masing2 punya style lah. Saya menghormatinya dan saya raikan perbezaan ini.^___^
Cuma yang terus-terusan membuat saya bingung, ialah pada rapuhnya solidariti kita, walaupun terhadap isu ummah.
"Gila kau solidariti kita rapuh...! Kita antara yang paling lantang bersuara kot..." Okay. Sejenis disclaimer.
Ya! Solidariti kita rapuh. Sangat rapuh terhadap apa yang sedang menghujani saudara2 kita di Ghazzah.
Kita mengaku kita prihatin, kita cakna, kita kasihan, kita turut merasa beban, kita sanggup carikan sumbangan, kita sanggup boikot, kita sanggup doakan, kita akan selalu hashtag sana-sini.
"Jemaah aku dah berusaha sehabis mungkin. Siap buat poster, banner bagai..."
"Ala...Jemaah kita dah bukak akaun khas untuk Palestin."
"Jemaah gua bro, siap tubuhkan unit khas lagi tau untuk bantu Palestin ni."
"Enta tahu, jemaah ana siap merekrut bakal2 tentera Al-Qassam versi Malaysia. Jemaah enta ada..?"
Fuhh...Juling biji mata.
Ya. Kita mengaku kita saudara, kita ada di sini untuk mereka, kita tolong mereka itu,kita bantu mereka ini, kita hantarkan makanan dan bantuan ubat2an untuk mereka, kita hantarkan doktor2 untuk mereka, kita jual t-shirt lepastu 20% masuk dalam akaun mereka, kita Qunut Nazilah setiap subuh untuk mereka, kita kasi bankrupt Mekdi dengan Setabak sebagai solidariti untuk mereka. Lalu itu sudah cukup...?
"Kau ni tak reti-reti ke nak bersyukur...? Orang dah sanggup buat semua tu dah kira jihad apa...? Tak payah la nak harap tinggi2 sangat...Okay la tu, jemaah tu buat sikit, jemaah ni buat sikit..."
Tak boleh ke, kita buang sekejap baju2 ananiyah yang menyarungi kita dengan nama jemaah yang kita bangga2 ...?
Tak boleh ke kita pakat2 semua jemaah Islam buat satu banner (banyak pun boleh) dengan mesej yang tegas lagi jelas, yang menunjukkan kesepakatan semua jemaah Islam di Malaysia untuk menentang keganasan di Ghazzah...?
Tak boleh ke kita pakat2 kumpul duit dari jemaah tu sikit, jemaah ni sikit, lepastu kita jemputlah mana-mana penceramah datang dan waktu nak bagi sumbangan tu, mention je gini.."Ini dari semua jemaah Islam yang ada di Malaysia..."...?
Tak boleh ke kita satukan je tabung2 sumbangan untuk Ghazzah supaya amaunnya masyuk yang subhanallah...?
Tak boleh ke kita design flyers utk melancarkan jihad ekonomi bagi melumpuhkan ekonomi Israel atas nama 'umat Islam di Malaysia'....?
Tak boleh ke kita berhenti kejap, mencari nama dan jenama semata-mata supaya orang nampak, "Oh,jemaah ni baguslah, Aktif. cakna Palestin pulak tu." [Okay. Mungkin bukan itu niatnya, sekadar memelihara hak rekacipta idea, ataupun niat2 murni yang lain. Masing2 punyai justifikasi untuk itu.Saya tidak tuduh. Tapi mungkin... Saya tidak silap meneka...?]
Tak boleh kah...?
Anda mungkin berfikir bahawa saya ini tidak matang, atau menulis berdasarkan emosi, atau tidak professional, atau tidak menghargai kepelbagaian jemaah,atau mengantuk.(heh. pandai anda teka) tapi serious...
Saya sudah bosan.
Bosan dengan ketidaksatuan ini.
Sedarkah anda bahawa dalam negara2 Islam yang tidak bersatu ini, di sebuah negara kecil bernama Malaysia, wujud lagi berpuluh-puluh jemaah Islam yang tidak bersatu...?
Susah sangat agaknya ya, untuk bersatu...?
Tidak perlu pun bersatu dalam semua hal kerana saya percaya pada khilaf terdapat rahmat, tetapi bagi menyatakan sokongan untuk saudara2 kita, sekurang2nya biarlah kita ini nampak seperti 'bersatu'.
Namun, semua kerisauan dan gundah-gula-gulana saya ini terubat melihat poster ini,
![]() |
| Topi saya untuk anda semua. |
Kesatuan ini, moga membuahkan hasil yang lumayan.
Kesatuan ini, moga memperdengarkan mereka terhadap suara2 kita.
Kesatuan ini, moga membuka mata mereka bahawa kita tidaklah ego dalam jubah ananiyah jemaah kita.
Kesatuan ini, moga mencetuskan hormat pada kawan, dan gerun pada lawan.
Kesatuan ini, moga terus membawa ke sorga.
Suka untuk saya sertakan di sini, kalam bernas dari seorang Al-Akh [boleh terus ke blog osem beliau di sini] yang saya hormati di jalan dakwah :
"Seperti apa jemaah islam itu:
seperti badan
dakwah menyeru manusia kepada tuhan
seperti madrasah mengajar insan ilmu agama dan keduniaan
seperti badan kebajikan yg kerjanya mengutip derma dan beri bantuan
seperti agen cari jodoh yang satukan pasangan
seperti parti politik yang bincang isu kenegaraan
seperti kem tentera yang lahirkan jundi islam dan perjuangan
seperti juga markaz sufi yang punya mutabaah amal harian.
seperti bahtera yang bawa ahlinya ke syurga idaman
pening digambarkan sebenarnya, seperti apakah jemaah islam itu.
Jemaah-jemaah Islam yang wujud ketika ini, bukan wujud atas dasar bercanggah (تضاد) sesama sendiri, tapi ianya merupakan kepelbagaian (تنوع) kepada perjuangan islam. Ini menggambarkan keluasan fahaman islam dan sifat keterbukaan islam dalam menangani kepelbagaiaan penganutnya.
Setiap jemaah islam punya cita-cita tinggi, mengejar daulah islamiah, ustaziatul alam. Kerana wujudnya maratibul amal inilah, wujudnya jemaah islam. Namun terkadang kita seakan-akan lupa, bahawa sesebuah jemaah islam yang dibina tidak akan berjaya mencapai daulah islamiah yang diinginkan sekiranya hanya berjuang melalui jemaah mereka sahaja dan tidak mahu bersatu dengan jemaah islam yang lain.
seperti madrasah mengajar insan ilmu agama dan keduniaan
seperti badan kebajikan yg kerjanya mengutip derma dan beri bantuan
seperti agen cari jodoh yang satukan pasangan
seperti parti politik yang bincang isu kenegaraan
seperti kem tentera yang lahirkan jundi islam dan perjuangan
seperti juga markaz sufi yang punya mutabaah amal harian.
seperti bahtera yang bawa ahlinya ke syurga idaman
pening digambarkan sebenarnya, seperti apakah jemaah islam itu.
Jemaah-jemaah Islam yang wujud ketika ini, bukan wujud atas dasar bercanggah (تضاد) sesama sendiri, tapi ianya merupakan kepelbagaian (تنوع) kepada perjuangan islam. Ini menggambarkan keluasan fahaman islam dan sifat keterbukaan islam dalam menangani kepelbagaiaan penganutnya.
Setiap jemaah islam punya cita-cita tinggi, mengejar daulah islamiah, ustaziatul alam. Kerana wujudnya maratibul amal inilah, wujudnya jemaah islam. Namun terkadang kita seakan-akan lupa, bahawa sesebuah jemaah islam yang dibina tidak akan berjaya mencapai daulah islamiah yang diinginkan sekiranya hanya berjuang melalui jemaah mereka sahaja dan tidak mahu bersatu dengan jemaah islam yang lain.
Jemaah islam perlu
ingat, mereka tidak akan mampu merekrut semua warga sesebuah negara menjadi
ahlinya dan dengan mudah membina daulah islamiah. Ianya tidak lain dan tidak
bukan, jemaah islam tersebut perlu bergabung tangan dengan jemaah islam yang
lain demi kemenangan islam.
Kumpulan gangster boleh bergabung apabila berhadapan dengan musuh yang sama, namun mengapa jemaah islam ini masih bercakaran sesama sendiri melawan musuh islam. Bingung sekali.
Sejarah menunjukkan, hubungan diplomatik antara Melaka dengan Pasai terjalin melalui perkahwinan antara sultan Melaka, Megat Iskandar Shah dengan Puteri Pasai. Perkahwinan seperti ini memudahkan urusan perdagangan dan penyebaran dakwah islam.
Ibu Dato Onn Jaafar adalah dari keturunan bangsawan Turki yang terpelihara di Istana Harem. YM Cik Rogayah Hanim adalah keluarga bangsawan Turki yang dinikahkan atas perkenan dan restu Sultan Turki sebagai tanda persaudaraan dengan Maharaja Abu Bakar ketika baginda melawat Turki pada tahun 1887. Hubungan antara negara ini semakin rapat dengan ikatan darah.
Kumpulan gangster boleh bergabung apabila berhadapan dengan musuh yang sama, namun mengapa jemaah islam ini masih bercakaran sesama sendiri melawan musuh islam. Bingung sekali.
Sejarah menunjukkan, hubungan diplomatik antara Melaka dengan Pasai terjalin melalui perkahwinan antara sultan Melaka, Megat Iskandar Shah dengan Puteri Pasai. Perkahwinan seperti ini memudahkan urusan perdagangan dan penyebaran dakwah islam.
Ibu Dato Onn Jaafar adalah dari keturunan bangsawan Turki yang terpelihara di Istana Harem. YM Cik Rogayah Hanim adalah keluarga bangsawan Turki yang dinikahkan atas perkenan dan restu Sultan Turki sebagai tanda persaudaraan dengan Maharaja Abu Bakar ketika baginda melawat Turki pada tahun 1887. Hubungan antara negara ini semakin rapat dengan ikatan darah.
Sungguhpon begitu,
umat kita makin parah apabila pernikahan antara jemaah menjarakkan hubungan
kekeluargaan, bahkan malu untuk mengaku seibu dan sebapa, tidak semanhaj
katanya. Perpecahan seperti inikah yang telah kita ajarkan.
Persaingan antara jemaah ini bukanlah persaingan kalah-menang, tetapi ianya persaingan menang-menang. Belajar daripada jemaah lain tentang kelemahan kita, dan mula berubah kepada yang lebih baik.
Di Malaysia, kita akui warga negara bukan 90% muslim, maka hak minoriti dan bukan islam perlu kita pelihara. Kerana islam bukanlah ajaran yang tidak membenarkan agama lain diamalkan, bahkan dalam islam rumah ibadat tidak boleh dirosakkan ketika perang demi menjaga kesucian dan sensitiviti agama. Tidak dapat tidak, seruan dakwah dan hubungan antara agama perlu dipelihara.
Yang jelas, hulurkan tangan kesatuan, pecahkan tembok pergaduhan, juang keadilan, islam mengajar keamanan."
Persaingan antara jemaah ini bukanlah persaingan kalah-menang, tetapi ianya persaingan menang-menang. Belajar daripada jemaah lain tentang kelemahan kita, dan mula berubah kepada yang lebih baik.
Di Malaysia, kita akui warga negara bukan 90% muslim, maka hak minoriti dan bukan islam perlu kita pelihara. Kerana islam bukanlah ajaran yang tidak membenarkan agama lain diamalkan, bahkan dalam islam rumah ibadat tidak boleh dirosakkan ketika perang demi menjaga kesucian dan sensitiviti agama. Tidak dapat tidak, seruan dakwah dan hubungan antara agama perlu dipelihara.
Yang jelas, hulurkan tangan kesatuan, pecahkan tembok pergaduhan, juang keadilan, islam mengajar keamanan."
Untuk semua bilah kata2 yang saya taipkan, no offense. Ini adalah buah fikiran yang tulus lahir dari minda saya yang berkecamuk memikirkan perpecahan yang merugikan ini. Anda kurang bersetuju, atau anda mempunyai pandangan yang akan meredakan 'kecamuk fikiran' saya ini, silakan berkongsi pandangan secara terhormat, seperti seorang Muslim yang berpuasa gituuu.
Sebarang keterlanjuran, terasa hati, tertuduh lelebih, saya mintak maaf.
tapi, itulah realiti.
Sekian.
Kredit tajuk : Lelucon Abah. Dari mana entah abah dapat perkataan 'Adik-beradik lain mak pak asing', itu saya tak tahu. Mungkin dari tok-tok guru Abah yang sekarang pasti saya tak sempat jumpa.
Friday, 11 July 2014
Jenis2 Manusia dan Kedegilannya
I testify that there's no God to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Selamat datang "Keampunan!"
Memandangkan baru2 ini kita dikejutkan dengan adegan tidak matang dari Israel laknatullah,
yang mana saya kira mungkin mereka sengaja mahu test power penduduk Palestin yang sedang berpuasa.
Benarlah kata seorang ustaz yang saya hormati, "Israel ini cari fasal nampaknya menyerang Palestin sewaktu bulan puasa. Mereka terlupa untuk selak kitab sirah tentang perang Badar nampaknya"[lebih kurang begitu], jadi saya rasa macam gatal tangan pulak kalau tak menulis tentangnya.
![]() |
| Sentap ke ulu alveolus |
Anda mesti pernah dengar perkataan ini kan...?
D E G I L
atau lebih hebat lagi, anda pernah dilabel dengannya. Woah! Jangan risau. Anda berada sekapal dengan saya. Degil ini juga kalau dalam bahasa orang kulit sawo matang boleh disebut sebagai :
1. Keras kepala
2. Jiwa kering
3. Kepala batu
4. Mangkuk tingkat
5. Periuk belanga,
dan segala yang seangkatan dengannya.
Menjadi degil sebenarnya tidaklah teruk sangat. Cuma kurang sikit je dari 'nekad'.
Jadi sempena fasa 'maghfirah' ini, ingin saya kongsikan beberapa erti 'D E G I L' yang telah saya luaskan konteksnya tanpa terlebih dahulu meminta izin dari Dewan Bahasa dan Pustakaq.
1. Stesen2 Televisyen dan Radio serta mana2 media yang terlibat melaporkan kejadian di Palestin dengan ayat yang lebih kurang begini " Askar2 dari Israel membunyikan siren di Tel Aviv berikutan serangan roket yang diterima dari Hamas, semalam. Bagaimanapun jua, roket yang disasarkan oleh pejuang2 Palestin tidak mengakibatkan sebarang kecederaan."
Tang mana yang degilnya?
- Bila masa pulak Israel tu dah sah diiktiraf jadi sebuah negara...? patutnya sebutlah 'petempatan haram Israel'.
2. Ini dia muka manusia2 yang tak berhati perut. Degilnya mereka ini untuk memusuhi Palestin, nauzubillah. Kang cakap lelebih kurang 'ummphh' puasa. Perangai tak pernahnya semenggah [gaya makcik2 berleter].
![]() |
| Tweet PM Israel laknatullah. Mohon hack. |
![]() |
| Pinochio moden |
Mereka ini yang memulakan peperangan, eh. alih2 Pak Obama mintak Hamas berdamai dengan Israel. Pffttt....Ada ke patut...? Hukum mahkamah mana dia pakai...? Serabut.
![]() |
| Kronologi serangan |
"Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka menjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu) ; dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku.
"Kemudian (setelah kamu bertaubat), Kami kembalikan kekuasaan untuk mengalahkan mereka, dan Kami beri kepada kamu harta kekayaan dan anak-pinak, serta Kami jadikan kamu kaum yang lebih ramai pasukannya."
"Jika kamu berbuat kebaikan, (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu; dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada kamu juga. Oleh itu,apabila sampai masa janji (membalas perbuatan derhaka kamu) kali kedua, (Kami datangkan musuh2 kamu) untuk memuramkan muka kamu (dengan penghinaan dan keganasannya) ; dan untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana mereka telah memasukinya pada kali yang pertama; dan untuk menghancurkan apa sahaja yang telah mereka kuasai,dengan sehancur-hancurnya"
[Al-Isra' : 4-7]
![]() |
| Ini bukan olok2 macam dalam filem Indiana Jones |
Jadi saya rasa mereka memang degil, untuk kebinasaan dunia dan akhirat mereka.
3. Golongan ketiga ini juga degil. Walaupun saban tahun kebelakangan ini, bila melangkah ke musim sejuk je,
mesti dengar kes2 serangan ke atas palestin ni. Tapi yang saya tabik, mereka ini degil yang macho. Topi saya untuk solidariti anda. Ini bukti bahawa mereka masih punya hati perut yang suci murni tanpa lemak kolestrol bernama 'hasad dengki'. walaupun beza agama, ternyata mereka masih mengerti jiwa manusia.
Ini adalah gambar2 solidariti dari Perancis,Morocco,Tunisia, dan Algeria. Jordan pun ada cuma tak sempat nak hapload. Its okay Jordanian. Allah knows.
Tuesday, 8 July 2014
Hanya Mata Rantai...
Bismillahirrahmanirraheem
In the name of Allah, the most beneficent, the most merciful.
I testify that there's no god to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Pernah suatu ketika,
Saya mendengarkan bait2 kalimah ini ditutur sedia,
"Adik-adik....kita ini adalah mata rantai perjuangan Rasulullah, "
Dengar. Bungkam. Masih tak faham.
Ada apa sebenarnya,
Dengan istilah mata rantai itu yang diulang-canang merata?
Ambil masa. Untuk terima.
Sebab bukan mudah.
Untuk terima begitu saja.
Hingga sampai suatu ketika,
Suara-suara yang mencanang itu lenyap pula,
Bertebaran ke serata dunia,
Tinggal saya, dan mereka.
Menghadapi sendiri resam rencah dunia,
Sepak terajang dan permainannya,
Jatuh dihempap dan bangkit semula,
Penat berlari dan berkayuh pun ada,
Namun bukan semua,
Dalam lautan manusia yang definisinya ;
saya dan mereka,
Dapat menafsir makna,
"Adik-adik...kita ini hanyalah mata rantai perjuangan Rasulullah"
Dan sampai pula kepada suatu ketika,
Yang saya sendiri harus berkata yang sama,
"Adik-adik...Kita ini hanyalah mata rantai perjuangan Rasulullah,"
Mana mungkin mampu dipertuturkan kata,
Kalau diri sendiri belum menghadam makna,
Bukankah nanti pincang bunyinya,
Seperti lirik lagu indah tapi kontang irama...?
Lalu melalui perjalanan singkat permusafiran dunia,
Selama meniti di batasan usia,
Inilah pendefinisiannya ;
Kita ini kerdil,
Cuma manusia biasa.
Yang diangkat menjadi terpilih,
Dari Nabi sebaik-baik manusia,
Dan jalan juang yang sumpah panjang ini,
Mari letakkan dalam sebuah analogi.
Andaikan jalan juang ini seutas rantai,
Dan kita berada di pertengahan,
Sebelum kita telah ada bijian rantai,
Dan nun di hadapan kita pun,
Akan wujud bijian rerantai,
Yang berjuntaian panjangnya,
Tak tahu ke mana.
Dan, andaikan saja,
Rantai ini ke sorga.
Kita bukanlah bijian rantai pertama.
Kita bukanlah pemula.
Kita tidak merasa pahit perit menjadi golongan pembuka.
Kita tidak bersama Baginda,
Yang menawarkan agama dalam pekat zulmat jahiliyyah,
Kita tidak bersama sahabat Baginda,
Saat menerima cerca nista dan balingan tahi hadiah para kuffar,
Kita tidak bersama orang2 yang mengikuti Baginda,
Saat membina tamadun berjaya sehingga menawan dua pertiga dunia.
Dan kita juga bukanlah biji rantai yang terakhir,
Kita bukanlah pengakhir,
Kita tidak akan tahu bila terbenturnya biji rantai yang terakhir.
Kerana jalan ini akan sentiasa ada pewaris,
Generasi demi generasi lahir.
Ia akan terus begitu,
Sampailah tiba saat seru,
Pabila bumi, matahari dan seluruh bintang bertemu,
Dalam satu tiupan yang dahsyatnya hanya Allah yang tahu.
Jadi dengar sini.
Dan fahami itu.
Kita hanya mata rantai,
Yang menyambung liku-liku perjuangan.
Bukan pemula.
Bukan juga penamat acara.
Kita pilih.
Untuk menjadi mata rantai yang menyambungkan,
Moga-moga sampai sorga,
Atau menjadi mata rantai yang membinasakan,
yang menjerumuskan ke dalam neraka...?
Nauzubillah!
In the name of Allah, the most beneficent, the most merciful.
I testify that there's no god to be worship but Allah,
And I testify that Muhammad (s.a.w) is His messenger.
Pernah suatu ketika,
Saya mendengarkan bait2 kalimah ini ditutur sedia,
"Adik-adik....kita ini adalah mata rantai perjuangan Rasulullah, "
Dengar. Bungkam. Masih tak faham.
Ada apa sebenarnya,
Dengan istilah mata rantai itu yang diulang-canang merata?
Ambil masa. Untuk terima.
Sebab bukan mudah.
Untuk terima begitu saja.
Hingga sampai suatu ketika,
Suara-suara yang mencanang itu lenyap pula,
Bertebaran ke serata dunia,
Tinggal saya, dan mereka.
Menghadapi sendiri resam rencah dunia,
Sepak terajang dan permainannya,
Jatuh dihempap dan bangkit semula,
Penat berlari dan berkayuh pun ada,
Namun bukan semua,
Dalam lautan manusia yang definisinya ;
saya dan mereka,
Dapat menafsir makna,
"Adik-adik...kita ini hanyalah mata rantai perjuangan Rasulullah"
Dan sampai pula kepada suatu ketika,
Yang saya sendiri harus berkata yang sama,
"Adik-adik...Kita ini hanyalah mata rantai perjuangan Rasulullah,"
Mana mungkin mampu dipertuturkan kata,
Kalau diri sendiri belum menghadam makna,
Bukankah nanti pincang bunyinya,
Seperti lirik lagu indah tapi kontang irama...?
Lalu melalui perjalanan singkat permusafiran dunia,
Selama meniti di batasan usia,
Inilah pendefinisiannya ;
Kita ini kerdil,
Cuma manusia biasa.
Yang diangkat menjadi terpilih,
Dari Nabi sebaik-baik manusia,
Dan jalan juang yang sumpah panjang ini,
Mari letakkan dalam sebuah analogi.
Andaikan jalan juang ini seutas rantai,
Dan kita berada di pertengahan,
Sebelum kita telah ada bijian rantai,
Dan nun di hadapan kita pun,
Akan wujud bijian rerantai,
Yang berjuntaian panjangnya,
Tak tahu ke mana.
Dan, andaikan saja,
Rantai ini ke sorga.
Kita bukanlah bijian rantai pertama.
Kita bukanlah pemula.
Kita tidak merasa pahit perit menjadi golongan pembuka.
Kita tidak bersama Baginda,
Yang menawarkan agama dalam pekat zulmat jahiliyyah,
Kita tidak bersama sahabat Baginda,
Saat menerima cerca nista dan balingan tahi hadiah para kuffar,
Kita tidak bersama orang2 yang mengikuti Baginda,
Saat membina tamadun berjaya sehingga menawan dua pertiga dunia.
Dan kita juga bukanlah biji rantai yang terakhir,
Kita bukanlah pengakhir,
Kita tidak akan tahu bila terbenturnya biji rantai yang terakhir.
Kerana jalan ini akan sentiasa ada pewaris,
Generasi demi generasi lahir.
Ia akan terus begitu,
Sampailah tiba saat seru,
Pabila bumi, matahari dan seluruh bintang bertemu,
Dalam satu tiupan yang dahsyatnya hanya Allah yang tahu.
Jadi dengar sini.
Dan fahami itu.
Kita hanya mata rantai,
Yang menyambung liku-liku perjuangan.
Bukan pemula.
Bukan juga penamat acara.
Kita pilih.
Untuk menjadi mata rantai yang menyambungkan,
Moga-moga sampai sorga,
Atau menjadi mata rantai yang membinasakan,
yang menjerumuskan ke dalam neraka...?
Nauzubillah!
Subscribe to:
Posts (Atom)
































